Enrich your website with powerful apps



Translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Senin, 12 November 2012

Suamiku Seorang.........

Selamselingkuhat malam, aku tak punya kawan.
Rasa jengah membawaku sampai ke warung kopi. Menemui segala sesuatu yang tak ku tau. Menangisi diri dengan sebuah kesadaran yang membuatku sakit: ternyata aku masih sangat bodoh. Aku mesih harus banyak belajar. Tapi dengan apa? Aku malas melakukan sesuatu. Entah berapa hal busuk mencemari sungai di otakku, hingga yang kurasakan sekarang sungai itu telah menjadi selokan yang sekaligus menjadi sarang tikus. Mengerikan, bukan?
Di warung, aku kembali melihat wajah Sapari – kawan (penjaga warkop) – yang sedang resah. Setelah ia membuatkan kopi untukku, ia menghampiriku, duduk di sebelahku dan bicara dengan nada yang setengah berbisik: “Tra, koen ngerti nggone ramayana nang Suroboyo? (Tra, kamu tau tempat ramayana di Surabaya?)”
Aku mengangguk, “Yo, ramayana endi? Ramayana Suroboyo iku akeh (ya, ramayana yang mana? Ramayana di Surabaya itu banyak)”
Kini wajahnya nampak murung. Ia berdiri dan meninggalkan aku kembali ke tempatnya biasa duduk. Kali ini ia melempar suntuknya dengan membenamkan diri dalam acara bola.
Tiba-tiba seorang lelaki menggebrak meja karena kalah taruhan. Wajahnya (sapari) semakin muram. Ada apa dengan orang itu?
Tak berselang lama, ketika aku sedang menekuri teks jurnal, seorang ibu-ibu yang biasa ku lihat sedang resah dengan keranjang di lengan kirinya. Ia menanyakan apa benar sepeda yang diparkir di depan warkop itu adalah sepedaku. Aku mengangguk, ia memintaku mengantarkannya sampai ke rumahnya di sadang dengan upah Rp.2000. Perempuan itu juga menawari aku jajanan yang dibawannya.
Ku lirik Sapari. Ia mengisyaratkan agar aku menolak tawaran perempuan tua itu, tapi aku yang menolak isyarat Sapari. Aku memilih mengantar perempuan tua itu pulang. Sebab ia tak akan mendapatkan bemo di jam-jam seperti ini. Waktu menunjukkan pukul 23.30 malam.
Sepanjang perjalanan, perempuan itu terus saja bicara banyak persoalan yang tak ku mengerti. Soal suaminya yang kuliahnya dulu tak selesai, soal suaminya yang suka menggoda perempuan-perempuan muda dan uangnya habis dengan mereka, atau tentang pekerjaan suaminya yang sering dipindah-pindah.
Aku jadi kembali berpikir, apa sedemikian tengik hidup bersama dalam rumah tangga hingga kita mesti mencari alternatif lain di luar?
Aku tak tau, atau paling tidak belum pernah merasakannya! Maaf, bu, saya tak berhak menjawab pertanyaanmu. Aku sendiri belum menikah; kau yang perlu mendengarkan keluh kesahku. Agar aku tak menjadi lelaki macam suamimu. Lalu bagaimana aku bisa menyebut suami macam apa lelakimu itu. Suamimu itu...

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Random Posts